smpkartikaiv10sby.sch.id

SMP KARTIKA IV-10
SURABAYA

Satu arah. satu komitmen.
Sekolah Berintegritas.

Hubungi kami, kami buka 07.00 s.d. 14.00 WIB
031 – 5664965
0895-1701-4687
Navigasi Responsif

Observasi dengan Teknik Coaching

Surabaya_2 Oktober 2026. Di sekolah kita melakukan observasi pembelajaran untuk mengembangkan kompetensi mengajar guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar di kelas. Prinsip dan paradigma berpikir coaching ini sangat bisa digunakan dalam proses observasi, agar semangat yang lebih mewarnai proses observasi adalah semangat memberdayakan, bukan mengevaluasi. Observasi memiliki tujuan untuk mengevaluasi kompetensi mengajar guru dan proses belajar di kelas.

Costa dan Garmston (2016) menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi awal yang diambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang.

Kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada guru atau teman sejawat di sekolah adalah : (1) kehadiran penuh, merupakan kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presence sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percapakan coaching. Kehadiran penuh merupakan bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching. (2) Mendengarkan aktif, seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit bicara. Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara. Seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee. (3) Mengajukan pertanyaan berbobot, pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

Adapun ciri dari pertanyaan berbobot adalah (1) Hasil mendengarkan aktif; menggunakan kata kunci yang didapat dari mendengarkan’ (2) membantu coachee; membuat coachee mengingat, merenung, dan merangkai fakta sehingga dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya, (3) bersifat terbuka dan eksploratif; struktur kalimat terbuka sehingga membuat coachee harus menjawab sambil berpikir, (4) diajukan di momen yang tepat; tidak terburu-buru dalam mengajukan pertanyaan dan ditanyakan di waktu yang coachee sudah siap memprosesnya.

Agar dalam mengajukan pertanyaan berbobot dalam kegiatan observasi, maka perlu dipahami alur percakapan coaching yang akan membantu seorang coach melakukan percakapan menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA. TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal luas dan telah banyak diaplikasikan yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will.

Pada tahapan (1) Goal (tujuan); coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, (2) Reality (hal-hal yang nyata); proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, (3) Options (pilihan), coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. dan (4) Will (keinginan untuk maju), komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir, prinsip dan ketrampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri. Seperti yang sudah diketahui, tujuan dari coaching sendiri adalah untuk pengembangan diri dan membangun kemandirian. Melalui alur percakapan coaching TIRTA, kita diharapkan dapat melakukan pendampingan dengan baik kepada rekan dan teman sejawat, bahkan kepada murid.

Dari segi bahasa TIRTA artinya air, dimana air akan mengalir dari hulu ke hilir. Jika diibaratkan seorang coachee adalah air, maka biarlah coachee merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir kompetensinya. Secara lebih jelasnya TIRTA dapat dijabarkan sebagai berikut : (1)Tujuan umum. tahap awal dimana coachee dan coach menyepakati tujuan kegiatan observasi; (2) Identifikasi;, dalam tahap ini, coach akan menggali dan memetakan situasi yang dibicarakan dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada saat sesi berlangsung; (3) Rencana Aksi, dari hasil identifikasi, maka coachee akan mengembangkan ide kreatifnya atau mungkin solusi dari rencana yang sudah direncanakan; (4) Tanggung jawab, dari tahap kedua dan ketiga, maka seorang coachee harus benar-benar bertanggung jawab terhadap komitmen/rencana tindak lanjut yang sudah didapatkan dari percakapan dengan coach

Penulis : Kusuma

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *